Cerita Anak "Dompet Hitam"

Cerita Anak Dompet Hitam merupakan sebuah cerita pendek saya yang ada di buku cerita anak Alasangker. Cerita anak ini mengisahkan tentang dua kakak beradik yang menemukan sebuah dompet hitam. Sang Adik menginginkan isi dari dompet hitam tersebut digunakan untuk membeli mainan. Sedangkan sang Kakak bersikeras untuk mencari pemilik dompet itu. Apakah isi dompet itu akan dipergunakan oleh sang adik untuk membeli mainan, ataukah sang kakak akan berhasil mencari pemilik dompet itu? Berikut merupakan cerita lengkap dari Cerita Anak Dompet Hitam.

Cerita Anak Dompet Hitam


“Dompet siapa ini ya?” tanya Adit sambil menoleh ke arah Nanda, adiknya. Dia memperlihatkan dompet hitam yang baru dipungutnya dari pinggir jalan. Dompet tersebut sudah usang. Di bebarapa lipatannya mulai luntur dan berlubang. Kulit luarnya sebagian mulai terkelupas.

Nanda memperhatikan dengan seksama dompet tersebut. “Coba buka Kak, apa isi dompet itu.”

Adit dengan hati-hati membuka dompet hitam tersebut. Di keluarkannya seluruh isi dompet itu. Tampak empat lembar uang seratus ribuan, dua lembar uang lima puluh ribuan, tiga lembar uang sepuluh ribuan dan tiga lembar uang seribuan. Selain itu, di dalam dompet tampak selembar kertas putih yang dilipat rapi.

“Wah, banyak sekali uangnya!” seru Adit setelah melihat isi dari dompet tersebut. Nanda yang ikut memeriksa isi dompet tersebut menganggukkan kepala. Matanya berbinar melihat uang tersebut.

“Apa yang akan kita lakukan dengan dompet ini Kak?” tanya Nanda. “Kita bagi dua ya” pintanya.

“Tidak adikku, kita harus kembalikan kepada pemiliknya. Tentu pemilik dompet ini sedang bingung mencari uangnya,” kata Adit sambil mengembalikan uang ke dalam dompet tersebut.

“Tapi, tidak ada satupun kartu identitas dalam dompet itu Kak?” tanya Nanda. Dalam hati, Nanda masih berharap kakaknya mau membagi uang yang ada dalam dompet tersebut. “Mudah-mudahan kita bisa tahu pemiliknya dari kertas ini, Nanda” kata Adit sambil memperlihatkan kertas yang tadi dikeluarkan dari dalam dompet hitam tersebut. Dengan sedikit kecewa Nanda menunggu Adit membuka kertas tersebut.

“Wah, ternyata kertas ini hanya sebuah resep obat” kata Adit tampak kecewa setelah membuka kertas tersebut. “Kita tidak bisa mengetahui pemilik dompet ini. Resep ini tidak berisi nama pasien.”

“Berarti kita tidak bisa mengembalikan dompet ini Kak?” tanya Nanda. Dalam hati, Nanda merasa senang.

“Sekarang kita pulang Nanda. Nanti baru kita pikirkan cara untuk menemukan pemilik dompet ini” kata Adit sambil memasukkan dompet tersebut ke dalam tas sekolahnya. Kemudian dia naik ke atas sepedanya. Sedangkan adiknya naik di sadel belakang. Dengan berboncengan mereka pulang menuju ke rumahnya.

Adit adalah seorang anak kelas enam sekolah dasar. Dia terkenal sebagai anak yang disiplin dan cerdas. Di sekolah, Adit selalu memperoleh rangking satu.

Adit memiliki seorang adik. Namanya Nanda. Usia mereka terpaut tiga tahun. Saat ini, Nanda baru menginjak kelas tiga sekolah dasar. Berbeda dengan kakaknya, Nanda seorang anak yang sedikit manja.

“Kak, kenapa kita tidak ambil saja uang dalam dompet itu?” tanya Nanda sambil memegang pinggang Kakaknya.

“Nanda, dompet itu bukan milik kita. Kita tidak boleh mengambil barang yang bukan milik kita tanpa seijin pemiliknya” kata Adit sambil mengayuh sepedanya.

“Tapi kak, kalau kita tidak bisa menemukan pemilik dompet itu?”

“Kita harus bisa menemukan pemilik dompet ini Dik. Tadi kamu lihat sendiri, di dalamnya ada resep dokter. Tentu ada keluarga dari pemiliki dompet ini yang sedang sakit” kata Adit. “Bukankah Ayah, Ibu serta Pak Guru sering mengingatkan kita untuk menjadi orang yang jujur?” lanjutnya lagi.

“Kita di Bali sangat percaya dengan Karmaphala. Karmaphala adalah buah dari perbuatan. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita petik. Sekarang kita menolong orang, suatu saat ketika kita kesusahan tentu akan ada orang yang akan menolong kita. Seperti kisah burung merpati yang menolong semut, pada akhirnya semut membalas budi dengan menolong merpati” kata Adit menasehati adiknya.

“Ya Kak. Maafkan Nanda” kata Nanda. “Nanti, ajak Nanda ikut mencari pemilik dompet itu ya Kak. Nanda juga ingin berbuat baik” lanjutnya.

“Tentu adikku. Sekarang kita pulang dulu. Tentu kamu sudah lapar bukan?” kata Adit sambil mempercepat mengayuh sepedanya.

Jarak dari rumah Adit ke sekolah memang tidak terlalu jauh. Dengan kondisi jalan yang datar membuat Adit tidak mengalami kesulitan mengayuh sepedanya. Tidak berapa lama mereka tiba di rumah.

“Bu, tadi Kakak dapat memungut sebuah dompet yang berisi banyak uang!” seru Nanda sesampainya di rumah. Dengan cepat dia turun dari sepada dan menuju ke arah dapur menemui ibunya yang sedang memasak.

Ibunya mematikan kompor dan keluar menemui Adit dan Nanda. “Benarkah itu, Dit?” tanyanya kepada Adit.

“Benar Bu. Dompet ini berisi sejumlah uang. Tapi, tidak terdapat satupun identitas di dalamnya. Hanya berisi sebuah kertas resep dokter” kata Adit sambil memberikan dompet dan resep tersebut kepada Ibunya.

Ibunya memeriksa dompet dan kertas resep tersebut. “Apa yang akan kamu lakukan dengan dompet ini?” tanya Ibu.

“Adit mau mencari pemiliknya Bu. Tentu dia sekarang bingung mencari dompetnya. Melihat dari resep tersebut, mungkin ada anggota keluarga pemilik dompet itu yang sedang sakit” jawab Adit.

“Ibu bangga padamu Nak. Kamu anak yang baik dan jujur” kata Ibu sambil mengusap kepala Adit.

“Bu, Nanda juga nanti ikut mencari pemilik dompet itu. Nanda juga anak yang baik dan jujur juga kan Bu?” seru Nanda sambil mengguncang tangan Ibunya.

“Tentu anakku. Kalian berdua anak-anak kebanggaan Ibu” kata Ibu sambil memeluk Nanda. Nanda tersenyum senang dipeluk dan dimanjakan oleh Ibunya. Adit hanya tersenyum melihat tingkah adiknya itu.

“Bu, kira-kira siapa ya dokter yang mengeluarkan resep ini?” tanya Adit sambil membuka kertas resep tersebut.

“Sepertinya itu kertas resep yang dikeluarkan oleh dokter Japa,” kata Ibu. “Coba saja kamu nanti ke sana untuk menanyakan langsung padanya.”

“Dokter Japa yang membuka praktek di jalan Dewi Sartika ya Bu?” tanya Adit.

“Ya Dit. Tempat prakteknya di jalan Dewi Sartika sebelah kanan toko kue itu. Kamu tahu kan tempatnya?”

“Adit tahu Bu tempatnya. Setelah makan, Adit akan ke sana” kata Adit sambil menuju ke ruang makan.

“Ganti dulu pakaianmu baru makan. Besok kan kalian menggunakan seragam itu lagi, jangan sampai kotor!” kata Ibu sambil tersenyum melihat kedua anaknya yang tergesa menuju ke meja makan.

Dalam hati Ibu merasa sangat bangga memiliki anak-anak yang baik dan jujur. “Mudah-mudahan sampai besar nanti, kejujuran itu bisa mereka pertahankan” harapnya dalam hati.

***

“Kak, itu klinik dokter Japa!” seru Nanda sambil membaca papan nama yang ada di depan sebuah klinik. Adit segera menghentikan sepedanya di depan klinik tersebut. Pintu pagar klinik dokter Japa masih tertutup. Tampak tak seorang pun ada di dalam klinik itu.

“Masih sepi Kak” kata Nanda sambil turun dari boncengan kakaknya.

Adit hanya mengangguk. Didekatinya pintu pagar klinik tersebut. Tampak olehnya pintu klinik tersebut masih tertutup. Di teras hanya terdapat dua kursi panjang dan sebuah meja. Tidak terlihat tanda-tanda ada orang di klinik tersebut.

“Adik-adik mau cari apa?” tanya seorang perempuan dari belakang Adit dan Nanda yang membuat mereka terkejut. Karena terlalu asyik mengamati klinik tersebut, mereka tidak sadar kalau ada seorang perempuan yang berpakaian perawat berdiri di belakang mereka.

“Maaf Kak, kami sudah tidak sopan karena mengintip dari pagar” kata Adit. “Kami ingin bertemu dengan dokter Japa. Tapi, di klinik tampak sepi” lanjutnya.

“Saya Rita, perawat yang bekerja di klinik ini. Pak Dokter masih di rumahnya. Sekitar satu jam lagi, baru beliau kemari” kata Rita sambil tersenyum ramah. “Ada keperluan apa kalian ingin menemui pak dokter?” tanyanya lagi.

Adit menceritakan tujuannya menemui dokter Japa. Rita menggut-manggut mendengar cerita Adit. Ada rasa kagum dalam hatinya melihat kejujuran Adit dan adiknya.

“Ikutlah dengan Kakak. Nanti kakak akan mencari alamat pemilik resep tersebut” kata Rita sambil membuka pintu pagar. Adit dan Nanda mengikutinya masuk ke dalam klinik.

Tidak berapa lama, Rita berhasil menemukan alamat pasien penerima resep tersebut. “Namanya Bu Gati. Dia menderita sakit demam. Alamat rumahnya di jalan Sahadewa” katanya.

“Nanda tahu alamat rumah itu Kak. Bu Gati itu ibunya Ratih, teman Nanda” kata Nanda kepada Kakaknya.

“Kalau begitu, ayo segera kita ke sana” ajak Adit.

Setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada Kak Rita, Adit mengayuh sepedanya menuju ke rumah Bu Gati.

***

Hari sudah mulai sore, Adit dan adiknya Nanda tiba di rumah Bu Gati. Rumah Bu Gati sangat sederhana. Di halaman rumah tampak taman bunga dan sedikit kebun sayur yang terawat dengan baik.

“Tampaknya, rumah Bu Gati sepi Kak” kata Nanda sambil berjalan menuju ke pintu rumah.

Adit segera mengetuk pintu rumah tersebut. Tidak berapa lama, pintu dibuka oleh Ratih. Wajah Ratih menunjukkan raut muka murung.

Melihat Adit dan Nanda, raut muka Ratih sedikit ceria. Segera dia mempersilakan Adit dan Nanda masuk ke rumah.

“Kok kamu murung Ratih?” tanya Nanda sambil duduk di sebuah kursi bambu. Kakaknya duduk di sebelahnya.

“Ibuku lagi sakit Nanda. Dari kemarin panas badan Ibu sangat tinggi. Tadi pagi, Ayah sudah membawa ke dokter Japa. Saat kembali dari dokter, dompet Ayah jatuh. Sekarang Ayah lagi mencari dompetnya” kata Ratih sedih. Tampak matanya berkaca-kaca menahan tangis.

“Justru karena itu kami ke sini Ratih” kata Nanda. Dengan bersemangat dia menceritakan tujuannya ke rumah Ratih. Adit hanya tersenyum melihat adiknya yang bercerita dengan semangatnya.

“Ini dompet Ayahmu, Ratih” kata Nanda sambil menyerahkan dompet hitam yang dipungutnya tadi. Ratih menerima dengan wajah ceria. Tak hentinya dia mengucapkan terima kasih kepada Adit dan Nanda.

Setelah berpamitan dengan Ratih dan kedua orangtuanya, Adit dan Nanda kembali pulang ke rumahnya.

Post a Comment for "Cerita Anak "Dompet Hitam""