Cerita Anak "Masakan Ibu"
Cerita Anak Masakan Ibu merupakan sebuah cerita pendek yang saya buat di buku cerita anak Alasangker. Cerita ini mengisahkan seorang anak yang tidak mau makan dan marah kepada ibunya karena keiinginannya tidak dipenuhi. Beriku merupakan Cerita Anak Masakan Ibu.
“Diah tidak mau makan! Diah bosan makan tempe, ikan goreng, sayur bayam. Pokoknya Diah mau makan burger, Bu!” Teriak Diah, sambil menutup tudung saji makanan yang ada di meja makan.
“Sayang, kamu harus makan! Sekarang sudah siang, kalau kamu tidak makan nanti kamu sakit maag.” Ucap ibu sambil membelai kepala anak sulungnya itu.
“Tidak mau! pokoknya Diah mau makan burger seperti bekal yang dibawa Santi ke sekolah tadi pagi. Ayo Bu, belikan burger sekarang!” Diah merengek sambil menggoncang-goncang tangan ibunya.
Kedua tangan ibu meraih wajah Diah, sambil tersenyum memperhatikan wajah anaknya yang masih terlihat kesal itu. “Sayang, lihatlah di luar hujan sangat deras, tunggu sampai hujan reda, ya! Nanti sore setelah ayah datang dari bekerja, kita ke toko roti membeli burger. Sekarang, makanlah masakan ibu dulu, makanan yang ibu masak bukan makanan sembarangan. Semua mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuhmu. Nasi mengandung karbohidrat, ikan goreng dan tempe mengandung protein, lemak dan kalsium. Sayur bayam mengandung vitamin A dan mineral zat besi, serta serat agar pencernaanmu lancar.”
“Ah, pokoknya Diah mau burger!” Dengan kesal Diah melepas belaian tangan ibunya. Sambil menangis tersedu-sedu, dia menuju ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Ibu duduk di tepi tempat tidur, sambil berkata “Sabar ya, Sayang! Sekarang ibu akan membuatkanmu roti sandwich, rasanya pasti tidak jauh berbeda dengan burger yang dibawa oleh temanmu itu. Tunggu ya, Sayang! Ibu tidak akan lama. Semua bahan sudah ada di dalam kulkas.”
Ibu bergegas menuju ke dapur. Dengan tangannya yang cekatan, dia mulai mengambil bahan-bahan untuk diolah menjadi roti sandwich.
Sementara di dalam kamar, Diah berbaring di atas tempat tidurnya yang empuk. Air matanya jatuh berlinang hingga membasahi sarung bantal. Dari balik jendela ia melihat hujan masih turun dengan deras, sesekali petir terlihat menyambar-nyambar seolah ingin menghanguskan semua yang ada di depannya.
Tanpa disadari, Diah pun terlelap dalam tidurnya. “Kreok…kreoook…” terdengar sebuah nyanyian alam dari dalam perutnya menandakan bahwa ia lapar.
Suara petir yang keras mengejutkan Diah, seketika ia terbangun dari tidurnya. Saat akan menginjakkan kaki di lantai, air terlihat sudah menggenangi kamarnya. Kemudian Diah turun dari tempat tidurnya. Ternyata ketinggian air yang berwarna keruh kecoklatan itu sudah mencapai lutut. “Ibu… ibu... Ibu dimana? Ada banjir, Bu!” teriak Diah.
“Diah… cepat keluar, Nak! Ibu di sini!” Ibu terlihat berada di depan kamar sambil menggendong Arya, adik laki-laki Diah yang masih berumur dua tahun.
Diah bergegas mendekati ibunya, walaupun kakinya terasa berat untuk melangkah karena terhalang banjir setinggi lutut. “Kita akan ke mana sekarang, Bu?”
“Ayo sayang, sambil menunggu bantuan datang, cepat naik ke atas atap rumah menggunakan tangga itu!”
Diah naik ke atap rumah menggunakan tangga dari bambu yang bersandar di samping rumahnya, disusul oleh ibu sambil menggendong Arya. Sesampainya di atap, Diah melihat semua tetangga sudah berada di atap rumah mereka masing-masing. Walaupun hujan sudah berhenti, tetapi banjir bertambah tinggi. Rumah-rumah penduduk hanya terlihat atapnya saja.
“Ibu, kenapa tiba-tiba ada banjir sebesar ini?” tanya Diah pada ibunya sambil termenung melihat ranting kayu dan sampah yang hanyut terbawa banjir.
“Sebenarnya keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi jika kita sadar akan Tri Hita Karana, yang berarti tiga penyebab kebahagiaan. Yaitu Parahyangan artinya hubungan dengan Tuhan. Pawongan artinya hubungan dengan sesama manusia. Palemahan artinya hubungan dengan alam.”
“Banjir ini merupakan akibat kita tidak menyayangi dan menjaga Palemahan dengan baik. Banyak orang membuang sampah ke sungai yang dapat menghambat aliran air. Selain itu menebang pohon sembarangan dapat menyebabkan daerah resapan air berkurang. Sehingga saat musim hujan, terjadilah banjir seperti ini. Padahal di Bali, setiap enam bulan sekali kita melakukan ritual Tumpek Wariga sebagai pengingat agar kita senantiasa menjaga alam khususnya tumbuh-tumbuhan. Tetapi masih saja ada orang tidak bertanggung jawab yang menebang pohon sembarangan untuk keuntungan pribadinya.” Demikian penjelasan ibu kepada Diah.
“Oo, begitu ya, Bu!” Diah manggut-manggut mendengarkan penjelasan ibunya. “Kreok, kreok,” suara itu terdengar dari perut Diah yang kosong.
“Ibu… Diah lapar sekali. Diah menyesal tidak memakan masakan ibu.” Diah menangis penuh penyesalan karena tadi tidak mau makan masakan ibunya.
“Iya, sabar sayang, sebentar pasti ada bantuan datang!” Sahut ibunya. Saat akan duduk bergeser mendekati Diah, tiba-tiba kaki ibu terpeleset. Dalam sekejap mata badan Ibu dan Arya sudah hanyut terbawa banjir. “Diah….!” Itulah teriakan terakhir yang diucapkan ibunya.
“Ibu…! Jangan tinggalkan Diah! Diah sayang ibu, maafkan Diah, Bu!” Teriakan dan tangisan Diah tidak mampu menghentikan banjir yang menghanyutkan tubuh ibu dan adiknya. “Ibu…ibu… huaa…huaa…” Diah menangis sejadi-jadinya rasa kehilangan, bersalah dan menyesal bersatu menjadi satu.
“Sayang, sayang, Diah sayang bangun, Nak!” Suara itu seperti suara ibu yang terngiang di telinga Diah. Ibu menggoncang-goncangkan tubuh Diah. Saat Diah membuka mata, dilihatnya ibu sedang duduk di samping tempat tidurnya.
“Ibu, ibu masih hidup? Ibu masih disini? Jangan tinggalkan Diah, ya!” Diah memeluk tubuh ibunya dengan erat. “Diah sangat sayang sama ibu, Diah mau makan masakan ibu.”
Ibu yang tampak kebingungan bertanya kepada Diah. “Kenapa, Sayang? Tadi kamu bermimpi apa, sampai kamu berteriak dan menangis sambil memanggil ibu?”
“Ibu, untung tadi hanya mimpi. Diah bermimpi buruk, Bu!” Diah lalu menceritakan tentang mimpi buruknya. Ibu manggut-manggut sambil tersenyum membelai rambut Diah.
“Maafkan Diah ya, Bu! Diah sudah tidak sopan dan tidak menghargai ibu. Mulai sekarang Diah berjanji, apa pun masakan yang ibu buat akan Diah makan. Diah tidak akan iri dengan teman-teman Diah. Karena Diah sangat sayang, Ibu!” Diah memeluk dan mencium pipi ibunya.
“Iya sayang, sekarang kamu makan dulu, ya!” Jam di ruang makan menunjukkan pukul 16.05. Ibu tersenyum melihat Diah yang sedang makan dengan lahapnya.
“Diah tidak mau makan! Diah bosan makan tempe, ikan goreng, sayur bayam. Pokoknya Diah mau makan burger, Bu!” Teriak Diah, sambil menutup tudung saji makanan yang ada di meja makan.
“Sayang, kamu harus makan! Sekarang sudah siang, kalau kamu tidak makan nanti kamu sakit maag.” Ucap ibu sambil membelai kepala anak sulungnya itu.
“Tidak mau! pokoknya Diah mau makan burger seperti bekal yang dibawa Santi ke sekolah tadi pagi. Ayo Bu, belikan burger sekarang!” Diah merengek sambil menggoncang-goncang tangan ibunya.
Kedua tangan ibu meraih wajah Diah, sambil tersenyum memperhatikan wajah anaknya yang masih terlihat kesal itu. “Sayang, lihatlah di luar hujan sangat deras, tunggu sampai hujan reda, ya! Nanti sore setelah ayah datang dari bekerja, kita ke toko roti membeli burger. Sekarang, makanlah masakan ibu dulu, makanan yang ibu masak bukan makanan sembarangan. Semua mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuhmu. Nasi mengandung karbohidrat, ikan goreng dan tempe mengandung protein, lemak dan kalsium. Sayur bayam mengandung vitamin A dan mineral zat besi, serta serat agar pencernaanmu lancar.”
“Ah, pokoknya Diah mau burger!” Dengan kesal Diah melepas belaian tangan ibunya. Sambil menangis tersedu-sedu, dia menuju ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Ibu duduk di tepi tempat tidur, sambil berkata “Sabar ya, Sayang! Sekarang ibu akan membuatkanmu roti sandwich, rasanya pasti tidak jauh berbeda dengan burger yang dibawa oleh temanmu itu. Tunggu ya, Sayang! Ibu tidak akan lama. Semua bahan sudah ada di dalam kulkas.”
Ibu bergegas menuju ke dapur. Dengan tangannya yang cekatan, dia mulai mengambil bahan-bahan untuk diolah menjadi roti sandwich.
Sementara di dalam kamar, Diah berbaring di atas tempat tidurnya yang empuk. Air matanya jatuh berlinang hingga membasahi sarung bantal. Dari balik jendela ia melihat hujan masih turun dengan deras, sesekali petir terlihat menyambar-nyambar seolah ingin menghanguskan semua yang ada di depannya.
Tanpa disadari, Diah pun terlelap dalam tidurnya. “Kreok…kreoook…” terdengar sebuah nyanyian alam dari dalam perutnya menandakan bahwa ia lapar.
***
Suara petir yang keras mengejutkan Diah, seketika ia terbangun dari tidurnya. Saat akan menginjakkan kaki di lantai, air terlihat sudah menggenangi kamarnya. Kemudian Diah turun dari tempat tidurnya. Ternyata ketinggian air yang berwarna keruh kecoklatan itu sudah mencapai lutut. “Ibu… ibu... Ibu dimana? Ada banjir, Bu!” teriak Diah.
“Diah… cepat keluar, Nak! Ibu di sini!” Ibu terlihat berada di depan kamar sambil menggendong Arya, adik laki-laki Diah yang masih berumur dua tahun.
Diah bergegas mendekati ibunya, walaupun kakinya terasa berat untuk melangkah karena terhalang banjir setinggi lutut. “Kita akan ke mana sekarang, Bu?”
“Ayo sayang, sambil menunggu bantuan datang, cepat naik ke atas atap rumah menggunakan tangga itu!”
Diah naik ke atap rumah menggunakan tangga dari bambu yang bersandar di samping rumahnya, disusul oleh ibu sambil menggendong Arya. Sesampainya di atap, Diah melihat semua tetangga sudah berada di atap rumah mereka masing-masing. Walaupun hujan sudah berhenti, tetapi banjir bertambah tinggi. Rumah-rumah penduduk hanya terlihat atapnya saja.
“Ibu, kenapa tiba-tiba ada banjir sebesar ini?” tanya Diah pada ibunya sambil termenung melihat ranting kayu dan sampah yang hanyut terbawa banjir.
“Sebenarnya keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi jika kita sadar akan Tri Hita Karana, yang berarti tiga penyebab kebahagiaan. Yaitu Parahyangan artinya hubungan dengan Tuhan. Pawongan artinya hubungan dengan sesama manusia. Palemahan artinya hubungan dengan alam.”
“Banjir ini merupakan akibat kita tidak menyayangi dan menjaga Palemahan dengan baik. Banyak orang membuang sampah ke sungai yang dapat menghambat aliran air. Selain itu menebang pohon sembarangan dapat menyebabkan daerah resapan air berkurang. Sehingga saat musim hujan, terjadilah banjir seperti ini. Padahal di Bali, setiap enam bulan sekali kita melakukan ritual Tumpek Wariga sebagai pengingat agar kita senantiasa menjaga alam khususnya tumbuh-tumbuhan. Tetapi masih saja ada orang tidak bertanggung jawab yang menebang pohon sembarangan untuk keuntungan pribadinya.” Demikian penjelasan ibu kepada Diah.
“Oo, begitu ya, Bu!” Diah manggut-manggut mendengarkan penjelasan ibunya. “Kreok, kreok,” suara itu terdengar dari perut Diah yang kosong.
“Ibu… Diah lapar sekali. Diah menyesal tidak memakan masakan ibu.” Diah menangis penuh penyesalan karena tadi tidak mau makan masakan ibunya.
“Iya, sabar sayang, sebentar pasti ada bantuan datang!” Sahut ibunya. Saat akan duduk bergeser mendekati Diah, tiba-tiba kaki ibu terpeleset. Dalam sekejap mata badan Ibu dan Arya sudah hanyut terbawa banjir. “Diah….!” Itulah teriakan terakhir yang diucapkan ibunya.
“Ibu…! Jangan tinggalkan Diah! Diah sayang ibu, maafkan Diah, Bu!” Teriakan dan tangisan Diah tidak mampu menghentikan banjir yang menghanyutkan tubuh ibu dan adiknya. “Ibu…ibu… huaa…huaa…” Diah menangis sejadi-jadinya rasa kehilangan, bersalah dan menyesal bersatu menjadi satu.
***
“Sayang, sayang, Diah sayang bangun, Nak!” Suara itu seperti suara ibu yang terngiang di telinga Diah. Ibu menggoncang-goncangkan tubuh Diah. Saat Diah membuka mata, dilihatnya ibu sedang duduk di samping tempat tidurnya.
“Ibu, ibu masih hidup? Ibu masih disini? Jangan tinggalkan Diah, ya!” Diah memeluk tubuh ibunya dengan erat. “Diah sangat sayang sama ibu, Diah mau makan masakan ibu.”
Ibu yang tampak kebingungan bertanya kepada Diah. “Kenapa, Sayang? Tadi kamu bermimpi apa, sampai kamu berteriak dan menangis sambil memanggil ibu?”
“Ibu, untung tadi hanya mimpi. Diah bermimpi buruk, Bu!” Diah lalu menceritakan tentang mimpi buruknya. Ibu manggut-manggut sambil tersenyum membelai rambut Diah.
“Maafkan Diah ya, Bu! Diah sudah tidak sopan dan tidak menghargai ibu. Mulai sekarang Diah berjanji, apa pun masakan yang ibu buat akan Diah makan. Diah tidak akan iri dengan teman-teman Diah. Karena Diah sangat sayang, Ibu!” Diah memeluk dan mencium pipi ibunya.
“Iya sayang, sekarang kamu makan dulu, ya!” Jam di ruang makan menunjukkan pukul 16.05. Ibu tersenyum melihat Diah yang sedang makan dengan lahapnya.

Post a Comment for "Cerita Anak "Masakan Ibu""
Post a Comment