Cerita Anak "Perahu Ekobrik"
Cerita Anak "Perahu Ekobrik" merupakan cerita yang saya buat di dalam buku cerita anak Alasangker. Cerita ini mengisahkan tentang perjuangan anak-anak di sebuah sekolah yang mempersiapkan diri mengikuti lomba sepeda hias. Dalam pembuatan sepeda hias tersebut, ternyata ada yang merusak bahan-bahan yang digunakan untuk membuat ekobrik. Mereka mencurigai temannya yang sudah dua hari tidak sekolah dan tidak ikut membantu membuat sepeda hias. Cerita selengkapnya bisa dibaca berikut ini.
“Bau sekali plastik ini! Pasti bekas pembukus bakso yang sudah lama di buang,” teriak Teja. Dia memegang sebuah sampah plastik dengan ibu jari dan telunjuknya. Dengan jijik dilemparnya sampah plastik tersebut sembarangan. Tanpa sengaja lemparannya membuat plastik tersebut meluncur ke arah Rama yang duduk di sebelah kanannya.
“Eits, jangan asal lempar dong Teja!” teriak Rama sambil menghindari sampah plastik yang di lempar oleh Teja. Matanya melotot menunjukkan rasa tidak senang terhadap apa yang dilakukan oleh Teja.
Teja mengetahui gelagat Rama yang mau marah segera minta maaf. “Maaf Rama, aku tidak sengaja. Tapi, memang sangat bau sekali sampah plastik itu. Kalau tetap dimasukkan ke dalam botol plastik ini, pasti akan lebih bau lagi nanti.”
“Sudah tahu plastiknya bau, malah kamu lempar ke arahku!” gumam Rama kesal. Walaupun kesal, namun Rama tahu kalau Teja tidak sengaja melakukannya. Dia melanjutkan pekerjaanya memasukkan sampah ke dalam botol plastik.
Yuda yang melihat tingkah teman-temannya tersenyum. “Kemarin Pak Guru sudah dengan jelas mengatakan, sampah plastik yang bau tersebut harus dicuci dulu Teja. Kalau perlu pakai deterjen biar baunya hilang. Kamu pasti tidak memperhatikan dengan baik saat Pak Guru menjelaskan cara membuat ekobriknya ya Teja?”
“Iya nih, aku kemarin tidak memperhatikan dengan baik. Agus terus mengajakku ngobrol kemarin saat Pak Guru menjelaskan” kata Teja sambil menunjuk ke arah Agus.
“Enak saja. Bukankah kamu yang terus mengajak aku ngobrol Teja?” seru Agus tidak terima karena dijadikan kambing hitam oleh Teja.
“Sudah-sudah, jangan bertengkar. Nanti pekerjaan kita tidak selesai kalau kalian terus bertengkar” Yuda menengahi pertengkaran teman-temannya. “Teja, cuci saja dulu plastik tersebut!” lanjutnya lagi.
Teja menuruti perkataan Yuda. Yuda memang memiliki kemampuan untuk memimpin teman-temannya. Jadi tidak heran kalau dari kelas satu sampai kelas enam dia selalu menjadi ketua kelas. Teman-temannya sangat menghormati Yuda. Hal itu disebabkan oleh sikap Yuda yang bijaksana dalam memimpin teman-temannya.
Sore itu, Yuda dan teman-temannya sedang asyik membuat ekobrik di belakang sekolah mereka. Ekobrik merupakan salah satu cara untuk mengurangi pencemaran tanah. Cara membuatnya sangat sederhana. Sampah plastik dimasukkan ke dalam botol plastik bekas. Dengan bantuan sebatang kayu, sampah plastik tersebut dijejalkan. Sehingga botol plastik betul-betul plastik menjadi padat terisi sampah plastik. Botol plastik yang berisi sampah itulah yang dikenal sebagai ekobrik.
Ekobrik yang sudah dibuat, kemudian di kreasikan menjadi benda-benda yang berguna. Yuda dan teman-temannya berencana untuk membuat perahu dengan menggunakan ekobrik tersebut. Perahu itu akan diikutkan dalam lomba sepeda hias menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Dewa, coba hitung berapa jumlah ekobrik yang sudah berhasil kita buat hari ini!” pinta Yuda. Dewa segera menghitung jumlah ekobrik yang berjajar di tanah. Bersama Dede dia mengelompokkan ekobrik menjadi delapan kelompok yang terdiri dari sepuluh ekobrik dan satu kelompok yang terdiri atas empat ekobrik. “Kita sudah bisa mengumpulkan delapan puluh empat buah ekobrik Yud” kata Dewa setelah selesai menghitung.
Yuda memperhatikan ekobrik yang sudah dikelompokkan oleh Dede dan Dewa. Dia manggut-manggut. “Ayo kita taruh ekobrik ini di sebelah gudang sekolah. Setelah itu kita pulang. Besok kita datang ke sekolah jam tiga sore. Kita akan membuat kerangka perahu” ajak Yuda.
Keesokan harinya jam tiga sore Yuda dengan sepeda gayungnya masuk ke halaman sekolah. Dia langsung menuju ke belakang sekolah. Teman-teman Yuda ternyata sudah lebih dulu datang. Mereka berkumpul di belakang sekolah. Namun kali ini mereka tampak berbicara serius sambil menunjuk ke arah gudang sekolah. Yuda menjadi heran melihat tingkah teman-temannya. Dia mendekati teman-temannya.
“Hei teman-teman, ada apa? Kok kalian seperti ada masalah?” tanya Yuda setelah dekat dengan teman-temannya. Dia melihat raut teman-temannya antara bingung dan kesal.
“Ada yang merusak ekobrik kita Yud.” Sahut Teja sambil menunjukk ke arah Ekobrik mereka yang berserakan. “Kemarin ekobrik itu kita sudah taruh dengan rapi, tapi sekarang ekobriknya berantakan” lanjutnya lagi.
Yuda mengamati ekobrik yang berserakan di tanah. Melihat dari posisinya yang berserakan dengan jarak yang berjauhan, Yuda memang memiliki kesimpulan ada yang sengaja mengacak-ngacaknya. Namun, dia tidak mau memperkeruh suasana. “Mungkin ekobriknya tersapu oleh angin kencang. Dari pada kita hanya bengong saja, lebih baik kita rapikan kembali. Banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan hari ini,” ajak Yuda sambil memungut ekobrik dan menaruhnya dengan rapi di samping gudang.
“Yud, aku kemarin melihat Pasek ke sekolah setelah kita pulang. Mungkin dia yang merusak ekobrik kita. Bukankah hanya dia yang tidak ikut membuat ekobrik kemari” kata Rama sambil membantu Yuda mengumpulkan ekobrik.
“Benar Yud, hanya dia yang tidak ikut dalam mempersiapkan lomba sepeda hias kita. Apsari dan teman-teman putri yang lain semuanya ikut terlibat mempersiapkan lomba itu. Pasti dia yang merusak ekobrik kita” kata Teja
“Kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap teman, Teja. Pasek memang tidak ikut membuat ekobrik maupun mempersiapkan lomba, tapi bukan berarti dia yang merusak ekobrik kita.” Yuda menenangkan teman-temannya.
“Kalau bukan untuk merusak ekobrik atau niat jahat yang lain, untuk apa dia ke sekolah malam-malam?” tanya Dewa.
“Pekerjaannya Pasek kan mengumpulkan botol plastik bekas, mungkin karena itu dia tidak mau membuat ekobrik. Dengan membuat ekobrik, berarti akan menurunkan penghasilannya. Benar tidak teman-teman?” seru Agus.
Teman-teman yang lain manggut-manggut. Mereka sependapat dengan alasan yang disampaikan oleh Agus. Dengan dimanfaatkannya botol plastik untuk membuat ekobrik, akan membuat Pasek mengalami penurunan penghasilan.
“Sudah, sudah. Kita tidak boleh menuduh Pasek tanpa bukti. Dia juga teman kita” kata Yuda. “Baiklah biar kita tidak berprasangka buruk, kita selidiki dulu. Nanti setelah selesai membuat kerangka perahu, aku dan Teja akan tatap di sini. Kita akan selidiki apa yang dilakukan oleh Pasek di sekolah. Sekarang ayo kita buat kerangka perahunya!”
Dengan menggunakan bambu, Yuda dan teman-temannya membuat kerangka perahu. Mereka bekerja dengan penuh semangat. Dalam waktu singkat, kerangka perahu tersebut itupun jadi.
“Hai, teman-teman. Kita istirahat dulu yuk!” seru Apsari. Dia bersama teman-teman putri datang dengan membawa nampan besar yang berisi teh dan singkong rebus.
Melihat itu, Yuda dan teman-temannya menghentikan pekerjaan mereka. Tanpa dikomando, mereka berebut menuju ke arah Apsari untuk mengambil singkong rebus.
“Eits, tunggu dulu!” seru Apsari sambil menjauhkan nampan yang dibawanya dari jangkauan teman-temannya. “Kalian tidak cuci tangan dulu? Dasar jorok!”
Yuda dan teman-temannya serentak membaui tangan mereka sendiri. Mereka baru menyadari bahwa tangannya bau sampah. Tanpa disuruh dua kali, mereka mencuci tangannya di keran sekolah.
“Pasek tidak datang hari ini ya?” tanya Apsari sambil menyapu sampah bambu bekas pembuatan kerangka sepeda hias.
“Tidak tuh. Tadi juga dia tidak masuk sekolah lagi kan. Sudah dua hari ini dia tidak sekolah,” sahut Rama sambil mengunyah singkongnya.
“Pak guru juga menanyakan tadi. Karena, dua hari ini Pasek tidak sekolah tanpa keterangan,” Teja menimpali.
“Tapi, kemarin aku melihat dia ke sekolah lho,” kata Hana sambi duduk di sebelah Apsari.
“Benar kan apa yang aku bilang!” seru Rama. “Aku melihat dia ke sekolah setelah kita selesai membuat ekobrik kemarin.”
“Pasti dia yang telah merusak kita. Kalau ketemu dengan Pasek, akan ku hajar dia,” kata Dede sambil mengepalkan tangannya.
“Emangnya kamu berani De? Pasek kan kekar badannya?” ledek Teja.
“Tapi bantuin ya,” kata Dede sambil tersipu malu.
Teman-temannya menertawakan tingkah Dede. Pasek memang memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap. Dia bahkan terpilih mewakili sekolah dalam ajang porseni. Sekarang, Pasek dalam persiapan untuk mengikuti porseni di tingkat kabupaten untuk cabang olahraga tolak peluru.
“Kita belum tahu siapa yang merusak ekobrik kita kemarin. Jadi jangan menuduh sembarangan dulu. Jangan sampai persahabatan kita rusak karena hal sepele,” kata Yuda menengahi. “Sekarang kita pulang saja, hari sudah sore,” lanjutnya lagi.
Teman-teman Yuda menuruti perkataan Yuda. Mereka meninggalkan sekolah menuju ke rumah masing-masing. Tinggal Yuda dan Teja yang masih di sekolah.
“Ayo kita juga pulang, Yuda!” ajak Teja.'
“Ayolah, sekalian aku juga menutup gerbang sekolah.”
Belum sempat mereka meninggalkan sekolah, tiba-tiba dari jauh Yuda melihat Pasek mengendarai sepeda masuk ke halaman sekolah. Yuda menarik tangan Teja. Sambil memberi tanda, dia mengajak Teja bersembunyi di belakang ruang kelas satu.
Pasek yang langsung memarkir sepedanya di bawah tiang bendera. Diambilnya sebuah kantung besar dari sepedanya. Dengan bergegas dia menuju ke belakang sekolah.
“Yud, kita tangkap basah dia, kalau dia merusak ekobrik kita lagi,” bisik Teja.
“Iya, kita lihat dulu apa yang dia lakukan,” kata Yuda dengan berbisik juga.
Pasek berjalan menuju ke arah ekobrik yang mereka buat tadi. Kantung besar tersebut dituangkan di sebelah ekobrik tersebut.
Melihat itu, Teja sudah mau menghampiri Pasek. Namun, dengan cepat Yuda memegang tangannya. Yuda menggelengkan kepalanya, ketika Teja menunjukkan rasa tidak puas di wajahnya.
“Kenapa kita tidak tangkap basah dia?” bisik Teja.
“Tunggu dulu, kita lihat apa yang Pasek lakukan,” bisik Yuda sambil terus mengamati Pasek.
Dengan tergesa-gesa Pasek menuju ke kebun toga sekolah. Tampak dia mencari sesuatu di rimbunnya kebun toga tersebut.
Setelah beberapa saat, Pasek ke luar dari kebun. Masih dengan langkah tergesa dia menuju ke sepedanya. Dengan cepat dia mengayuh sepeda ke luar dari sekolah.
Yuda segera menarik tangan Teja. “Ayo cepat kita ikuti Pasek ke rumahnya!” kata Yuda sambil setengah berlari menuju ke arah sepedanya.
Sambil berboncengan Yuda dan Teja menuju ke rumah Pasek. Jarak rumah Pasek ke sekolah sekitar dua kilometer. Dengan cepat Yuda mengayuh sepedanya.
“Mengapa kita tidak menangkap basah Pasek tadi Yud?” tanya Teja sambil memegang pinggang Yuda dengan erat. Dia takut terjatuh karena Yuda mengayuh sepedanya dengan kencang.
“Bukan Pasek yang merusak ekobrik kita,” kata Yuda sambil terus mengayuh sepedanya.
“Kamu tidak lihat tadi? Bukankah dia menuju ke ekobrik kita?” tanya Teja penasaran.
“Iya, tapi dia ke sana bukan untuk merusak. Dia malah mambantu kita membuat ekobrik.”
“Maksudmu?”
“Kamu tidak lihat tadi? Pasek memberi kita botol plastik bekas,” kata Yuda. “Aku sebenarnya sedikit curiga tadi pagi. Aku merasa jumlah botol plastik bertambah. Tapi, karena semua sibuk berpikir siapa yang merusak ekobrik, kita tidak menyadarinya,” lanjut Yuda.
Teja manggut-manggut mendengar penjelasan Yuda. “Untuk apa kita sekarang ke rumah Pasek?” tanyanya lagi.
“Pasek tadi mencari tanaman obat. Pasti ada yang sakit. Selama ini dia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Aku yakin, pasti ibunya yang sakit. Itulah alasannya mengapa dia tidak sekolah dalam dua hari ini,” jelas Yuda.
Tidak terasa, mereka telah sampai di rumah Pasek. Bangunan rumah Pasek sangat sederhana. Di sekeliling rumah banyak terdapat botol plastik yang dikumpulkan Pasek. Yuda memarkir sepedanya di halaman rumah dan menuju ke pintu rumah. Diketuknya pintu rumah tersebut, sambil memanggil Pasek.
“Sek, Pasek!” seru Yuda sambil mengetuk pintu.
Tidak berapa lama Pasek membukakan pintu rumahnya. Wajahnya tampak terkejut ketika melihat Yuda dan Teja.
“Ada apa Yud? Tumben kamu ke sini?” tanya Pasek.
“Sudah dua hari kamu tidak sekolah Sek, Pak Guru menanyakanmu tadi. Makanya aku ke rumahmu,” jawab Yuda. “Kamu sakit Sek?”
“Aku tidak sakit Yud, ibuku yang sakit. Dari dua hari yang lalu dia mengalami diare dan muntah-muntah,” kata Pasek sambil menundukkan kepalanya.
“Mengapa kamu tidak ajak ke dokter?” tanya Teja.
“Aku tidak punya uang. Pengepul botol plastik tidak datang. Bisanya mereka datang setiap dua minggu,” kata Pasek.
“Oh iya, tunggu sebentar Sek!” Yuda bergegas menuju ke tempat sepedanya.
“Mau ke mana Yud?” tanya Teja.
“Kamu tunggu di sini. Aku akan memanggil pamanku yang menjadi perawat di puskesmas.” Yuda bergegas meninggalkan Pasek dan Teja yang masih bengong di depan rumah.
Keesokan harinya di sekolah, Yuda dan teman-temannya sedang sibuk melakukan pembersihan di gerbang sekolah. Hari itu, mereka berencana untuk menghias sekolah menyambut hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Pasek datang!” seru Rama.
Semua teman-temannya menoleh ke arah Pasek yang datang dengan mengendarai sepeda tuanya.
“Maaf teman-teman, saya terlambat datang ke sekolah. Tadi masih menyiapkan bubur untuk Ibu,” kata Pasek sambil mendekati teman-temannya.
“Tidak apa kok. Kami sudah tahu semuanya. Yuda dan Teja telah menceritakan semuanya. Maafkan kami ya. Kami ternyata tidak peduli dengan teman sendiri,” kata Apasari sambil menjabat tangan Pasek.
Teman-teman yang lain juga bergantian menjabat tangan pasek sebagai permintaan maaf. Pasek sendiri berkaca-kaca melihat ketulusan teman-temannya.
“Sudah-sudah, sekarang kita lanjutkan membuat perahu ekobrik. Menghias sekolahnya kan sudah selesai,” kata Yuda.
“Oh iya Sek, kami ada masalah. Perahu ekobrik yang kita buat, ternyata sangat berat. Tidak ada yang mampu mengendarai sepeda hias tersebut,” kata Yuda dalam perjalanan menuju ke belakang sekolah.
“Tenang saja Yud, aku yang akan mengendarai sepeda itu. Aku sudah terbiasa mengendarai sepeda dengan membawa beban berat,” kata Pasek.
“Terima kasih Sek. Memang kamu harapan kami satu-satunya,” Yuda sangat gembira. Teman-teman yang lain juga ikut gembira.
“Bau sekali plastik ini! Pasti bekas pembukus bakso yang sudah lama di buang,” teriak Teja. Dia memegang sebuah sampah plastik dengan ibu jari dan telunjuknya. Dengan jijik dilemparnya sampah plastik tersebut sembarangan. Tanpa sengaja lemparannya membuat plastik tersebut meluncur ke arah Rama yang duduk di sebelah kanannya.
“Eits, jangan asal lempar dong Teja!” teriak Rama sambil menghindari sampah plastik yang di lempar oleh Teja. Matanya melotot menunjukkan rasa tidak senang terhadap apa yang dilakukan oleh Teja.
Teja mengetahui gelagat Rama yang mau marah segera minta maaf. “Maaf Rama, aku tidak sengaja. Tapi, memang sangat bau sekali sampah plastik itu. Kalau tetap dimasukkan ke dalam botol plastik ini, pasti akan lebih bau lagi nanti.”
“Sudah tahu plastiknya bau, malah kamu lempar ke arahku!” gumam Rama kesal. Walaupun kesal, namun Rama tahu kalau Teja tidak sengaja melakukannya. Dia melanjutkan pekerjaanya memasukkan sampah ke dalam botol plastik.
Yuda yang melihat tingkah teman-temannya tersenyum. “Kemarin Pak Guru sudah dengan jelas mengatakan, sampah plastik yang bau tersebut harus dicuci dulu Teja. Kalau perlu pakai deterjen biar baunya hilang. Kamu pasti tidak memperhatikan dengan baik saat Pak Guru menjelaskan cara membuat ekobriknya ya Teja?”
“Iya nih, aku kemarin tidak memperhatikan dengan baik. Agus terus mengajakku ngobrol kemarin saat Pak Guru menjelaskan” kata Teja sambil menunjuk ke arah Agus.
“Enak saja. Bukankah kamu yang terus mengajak aku ngobrol Teja?” seru Agus tidak terima karena dijadikan kambing hitam oleh Teja.
“Sudah-sudah, jangan bertengkar. Nanti pekerjaan kita tidak selesai kalau kalian terus bertengkar” Yuda menengahi pertengkaran teman-temannya. “Teja, cuci saja dulu plastik tersebut!” lanjutnya lagi.
Teja menuruti perkataan Yuda. Yuda memang memiliki kemampuan untuk memimpin teman-temannya. Jadi tidak heran kalau dari kelas satu sampai kelas enam dia selalu menjadi ketua kelas. Teman-temannya sangat menghormati Yuda. Hal itu disebabkan oleh sikap Yuda yang bijaksana dalam memimpin teman-temannya.
Sore itu, Yuda dan teman-temannya sedang asyik membuat ekobrik di belakang sekolah mereka. Ekobrik merupakan salah satu cara untuk mengurangi pencemaran tanah. Cara membuatnya sangat sederhana. Sampah plastik dimasukkan ke dalam botol plastik bekas. Dengan bantuan sebatang kayu, sampah plastik tersebut dijejalkan. Sehingga botol plastik betul-betul plastik menjadi padat terisi sampah plastik. Botol plastik yang berisi sampah itulah yang dikenal sebagai ekobrik.
Ekobrik yang sudah dibuat, kemudian di kreasikan menjadi benda-benda yang berguna. Yuda dan teman-temannya berencana untuk membuat perahu dengan menggunakan ekobrik tersebut. Perahu itu akan diikutkan dalam lomba sepeda hias menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Dewa, coba hitung berapa jumlah ekobrik yang sudah berhasil kita buat hari ini!” pinta Yuda. Dewa segera menghitung jumlah ekobrik yang berjajar di tanah. Bersama Dede dia mengelompokkan ekobrik menjadi delapan kelompok yang terdiri dari sepuluh ekobrik dan satu kelompok yang terdiri atas empat ekobrik. “Kita sudah bisa mengumpulkan delapan puluh empat buah ekobrik Yud” kata Dewa setelah selesai menghitung.
Yuda memperhatikan ekobrik yang sudah dikelompokkan oleh Dede dan Dewa. Dia manggut-manggut. “Ayo kita taruh ekobrik ini di sebelah gudang sekolah. Setelah itu kita pulang. Besok kita datang ke sekolah jam tiga sore. Kita akan membuat kerangka perahu” ajak Yuda.
***
Keesokan harinya jam tiga sore Yuda dengan sepeda gayungnya masuk ke halaman sekolah. Dia langsung menuju ke belakang sekolah. Teman-teman Yuda ternyata sudah lebih dulu datang. Mereka berkumpul di belakang sekolah. Namun kali ini mereka tampak berbicara serius sambil menunjuk ke arah gudang sekolah. Yuda menjadi heran melihat tingkah teman-temannya. Dia mendekati teman-temannya.
“Hei teman-teman, ada apa? Kok kalian seperti ada masalah?” tanya Yuda setelah dekat dengan teman-temannya. Dia melihat raut teman-temannya antara bingung dan kesal.
“Ada yang merusak ekobrik kita Yud.” Sahut Teja sambil menunjukk ke arah Ekobrik mereka yang berserakan. “Kemarin ekobrik itu kita sudah taruh dengan rapi, tapi sekarang ekobriknya berantakan” lanjutnya lagi.
Yuda mengamati ekobrik yang berserakan di tanah. Melihat dari posisinya yang berserakan dengan jarak yang berjauhan, Yuda memang memiliki kesimpulan ada yang sengaja mengacak-ngacaknya. Namun, dia tidak mau memperkeruh suasana. “Mungkin ekobriknya tersapu oleh angin kencang. Dari pada kita hanya bengong saja, lebih baik kita rapikan kembali. Banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan hari ini,” ajak Yuda sambil memungut ekobrik dan menaruhnya dengan rapi di samping gudang.
“Yud, aku kemarin melihat Pasek ke sekolah setelah kita pulang. Mungkin dia yang merusak ekobrik kita. Bukankah hanya dia yang tidak ikut membuat ekobrik kemari” kata Rama sambil membantu Yuda mengumpulkan ekobrik.
“Benar Yud, hanya dia yang tidak ikut dalam mempersiapkan lomba sepeda hias kita. Apsari dan teman-teman putri yang lain semuanya ikut terlibat mempersiapkan lomba itu. Pasti dia yang merusak ekobrik kita” kata Teja
“Kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap teman, Teja. Pasek memang tidak ikut membuat ekobrik maupun mempersiapkan lomba, tapi bukan berarti dia yang merusak ekobrik kita.” Yuda menenangkan teman-temannya.
“Kalau bukan untuk merusak ekobrik atau niat jahat yang lain, untuk apa dia ke sekolah malam-malam?” tanya Dewa.
“Pekerjaannya Pasek kan mengumpulkan botol plastik bekas, mungkin karena itu dia tidak mau membuat ekobrik. Dengan membuat ekobrik, berarti akan menurunkan penghasilannya. Benar tidak teman-teman?” seru Agus.
Teman-teman yang lain manggut-manggut. Mereka sependapat dengan alasan yang disampaikan oleh Agus. Dengan dimanfaatkannya botol plastik untuk membuat ekobrik, akan membuat Pasek mengalami penurunan penghasilan.
“Sudah, sudah. Kita tidak boleh menuduh Pasek tanpa bukti. Dia juga teman kita” kata Yuda. “Baiklah biar kita tidak berprasangka buruk, kita selidiki dulu. Nanti setelah selesai membuat kerangka perahu, aku dan Teja akan tatap di sini. Kita akan selidiki apa yang dilakukan oleh Pasek di sekolah. Sekarang ayo kita buat kerangka perahunya!”
Dengan menggunakan bambu, Yuda dan teman-temannya membuat kerangka perahu. Mereka bekerja dengan penuh semangat. Dalam waktu singkat, kerangka perahu tersebut itupun jadi.
“Hai, teman-teman. Kita istirahat dulu yuk!” seru Apsari. Dia bersama teman-teman putri datang dengan membawa nampan besar yang berisi teh dan singkong rebus.
Melihat itu, Yuda dan teman-temannya menghentikan pekerjaan mereka. Tanpa dikomando, mereka berebut menuju ke arah Apsari untuk mengambil singkong rebus.
“Eits, tunggu dulu!” seru Apsari sambil menjauhkan nampan yang dibawanya dari jangkauan teman-temannya. “Kalian tidak cuci tangan dulu? Dasar jorok!”
Yuda dan teman-temannya serentak membaui tangan mereka sendiri. Mereka baru menyadari bahwa tangannya bau sampah. Tanpa disuruh dua kali, mereka mencuci tangannya di keran sekolah.
“Pasek tidak datang hari ini ya?” tanya Apsari sambil menyapu sampah bambu bekas pembuatan kerangka sepeda hias.
“Tidak tuh. Tadi juga dia tidak masuk sekolah lagi kan. Sudah dua hari ini dia tidak sekolah,” sahut Rama sambil mengunyah singkongnya.
“Pak guru juga menanyakan tadi. Karena, dua hari ini Pasek tidak sekolah tanpa keterangan,” Teja menimpali.
“Tapi, kemarin aku melihat dia ke sekolah lho,” kata Hana sambi duduk di sebelah Apsari.
“Benar kan apa yang aku bilang!” seru Rama. “Aku melihat dia ke sekolah setelah kita selesai membuat ekobrik kemarin.”
“Pasti dia yang telah merusak kita. Kalau ketemu dengan Pasek, akan ku hajar dia,” kata Dede sambil mengepalkan tangannya.
“Emangnya kamu berani De? Pasek kan kekar badannya?” ledek Teja.
“Tapi bantuin ya,” kata Dede sambil tersipu malu.
Teman-temannya menertawakan tingkah Dede. Pasek memang memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap. Dia bahkan terpilih mewakili sekolah dalam ajang porseni. Sekarang, Pasek dalam persiapan untuk mengikuti porseni di tingkat kabupaten untuk cabang olahraga tolak peluru.
“Kita belum tahu siapa yang merusak ekobrik kita kemarin. Jadi jangan menuduh sembarangan dulu. Jangan sampai persahabatan kita rusak karena hal sepele,” kata Yuda menengahi. “Sekarang kita pulang saja, hari sudah sore,” lanjutnya lagi.
Teman-teman Yuda menuruti perkataan Yuda. Mereka meninggalkan sekolah menuju ke rumah masing-masing. Tinggal Yuda dan Teja yang masih di sekolah.
“Ayo kita juga pulang, Yuda!” ajak Teja.'
“Ayolah, sekalian aku juga menutup gerbang sekolah.”
Belum sempat mereka meninggalkan sekolah, tiba-tiba dari jauh Yuda melihat Pasek mengendarai sepeda masuk ke halaman sekolah. Yuda menarik tangan Teja. Sambil memberi tanda, dia mengajak Teja bersembunyi di belakang ruang kelas satu.
Pasek yang langsung memarkir sepedanya di bawah tiang bendera. Diambilnya sebuah kantung besar dari sepedanya. Dengan bergegas dia menuju ke belakang sekolah.
“Yud, kita tangkap basah dia, kalau dia merusak ekobrik kita lagi,” bisik Teja.
“Iya, kita lihat dulu apa yang dia lakukan,” kata Yuda dengan berbisik juga.
Pasek berjalan menuju ke arah ekobrik yang mereka buat tadi. Kantung besar tersebut dituangkan di sebelah ekobrik tersebut.
Melihat itu, Teja sudah mau menghampiri Pasek. Namun, dengan cepat Yuda memegang tangannya. Yuda menggelengkan kepalanya, ketika Teja menunjukkan rasa tidak puas di wajahnya.
“Kenapa kita tidak tangkap basah dia?” bisik Teja.
“Tunggu dulu, kita lihat apa yang Pasek lakukan,” bisik Yuda sambil terus mengamati Pasek.
Dengan tergesa-gesa Pasek menuju ke kebun toga sekolah. Tampak dia mencari sesuatu di rimbunnya kebun toga tersebut.
Setelah beberapa saat, Pasek ke luar dari kebun. Masih dengan langkah tergesa dia menuju ke sepedanya. Dengan cepat dia mengayuh sepeda ke luar dari sekolah.
Yuda segera menarik tangan Teja. “Ayo cepat kita ikuti Pasek ke rumahnya!” kata Yuda sambil setengah berlari menuju ke arah sepedanya.
Sambil berboncengan Yuda dan Teja menuju ke rumah Pasek. Jarak rumah Pasek ke sekolah sekitar dua kilometer. Dengan cepat Yuda mengayuh sepedanya.
“Mengapa kita tidak menangkap basah Pasek tadi Yud?” tanya Teja sambil memegang pinggang Yuda dengan erat. Dia takut terjatuh karena Yuda mengayuh sepedanya dengan kencang.
“Bukan Pasek yang merusak ekobrik kita,” kata Yuda sambil terus mengayuh sepedanya.
“Kamu tidak lihat tadi? Bukankah dia menuju ke ekobrik kita?” tanya Teja penasaran.
“Iya, tapi dia ke sana bukan untuk merusak. Dia malah mambantu kita membuat ekobrik.”
“Maksudmu?”
“Kamu tidak lihat tadi? Pasek memberi kita botol plastik bekas,” kata Yuda. “Aku sebenarnya sedikit curiga tadi pagi. Aku merasa jumlah botol plastik bertambah. Tapi, karena semua sibuk berpikir siapa yang merusak ekobrik, kita tidak menyadarinya,” lanjut Yuda.
Teja manggut-manggut mendengar penjelasan Yuda. “Untuk apa kita sekarang ke rumah Pasek?” tanyanya lagi.
“Pasek tadi mencari tanaman obat. Pasti ada yang sakit. Selama ini dia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Aku yakin, pasti ibunya yang sakit. Itulah alasannya mengapa dia tidak sekolah dalam dua hari ini,” jelas Yuda.
Tidak terasa, mereka telah sampai di rumah Pasek. Bangunan rumah Pasek sangat sederhana. Di sekeliling rumah banyak terdapat botol plastik yang dikumpulkan Pasek. Yuda memarkir sepedanya di halaman rumah dan menuju ke pintu rumah. Diketuknya pintu rumah tersebut, sambil memanggil Pasek.
“Sek, Pasek!” seru Yuda sambil mengetuk pintu.
Tidak berapa lama Pasek membukakan pintu rumahnya. Wajahnya tampak terkejut ketika melihat Yuda dan Teja.
“Ada apa Yud? Tumben kamu ke sini?” tanya Pasek.
“Sudah dua hari kamu tidak sekolah Sek, Pak Guru menanyakanmu tadi. Makanya aku ke rumahmu,” jawab Yuda. “Kamu sakit Sek?”
“Aku tidak sakit Yud, ibuku yang sakit. Dari dua hari yang lalu dia mengalami diare dan muntah-muntah,” kata Pasek sambil menundukkan kepalanya.
“Mengapa kamu tidak ajak ke dokter?” tanya Teja.
“Aku tidak punya uang. Pengepul botol plastik tidak datang. Bisanya mereka datang setiap dua minggu,” kata Pasek.
“Oh iya, tunggu sebentar Sek!” Yuda bergegas menuju ke tempat sepedanya.
“Mau ke mana Yud?” tanya Teja.
“Kamu tunggu di sini. Aku akan memanggil pamanku yang menjadi perawat di puskesmas.” Yuda bergegas meninggalkan Pasek dan Teja yang masih bengong di depan rumah.
***
Keesokan harinya di sekolah, Yuda dan teman-temannya sedang sibuk melakukan pembersihan di gerbang sekolah. Hari itu, mereka berencana untuk menghias sekolah menyambut hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Pasek datang!” seru Rama.
Semua teman-temannya menoleh ke arah Pasek yang datang dengan mengendarai sepeda tuanya.
“Maaf teman-teman, saya terlambat datang ke sekolah. Tadi masih menyiapkan bubur untuk Ibu,” kata Pasek sambil mendekati teman-temannya.
“Tidak apa kok. Kami sudah tahu semuanya. Yuda dan Teja telah menceritakan semuanya. Maafkan kami ya. Kami ternyata tidak peduli dengan teman sendiri,” kata Apasari sambil menjabat tangan Pasek.
Teman-teman yang lain juga bergantian menjabat tangan pasek sebagai permintaan maaf. Pasek sendiri berkaca-kaca melihat ketulusan teman-temannya.
“Sudah-sudah, sekarang kita lanjutkan membuat perahu ekobrik. Menghias sekolahnya kan sudah selesai,” kata Yuda.
“Oh iya Sek, kami ada masalah. Perahu ekobrik yang kita buat, ternyata sangat berat. Tidak ada yang mampu mengendarai sepeda hias tersebut,” kata Yuda dalam perjalanan menuju ke belakang sekolah.
“Tenang saja Yud, aku yang akan mengendarai sepeda itu. Aku sudah terbiasa mengendarai sepeda dengan membawa beban berat,” kata Pasek.
“Terima kasih Sek. Memang kamu harapan kami satu-satunya,” Yuda sangat gembira. Teman-teman yang lain juga ikut gembira.

Post a Comment for "Cerita Anak "Perahu Ekobrik""
Post a Comment