Cerita Anak Alassangker

Cerita Anak Alassangker merupakan salah satu cerita saya yang ada di dalam buku cerita anak Alasangker. Cerita ini mengisahkan tentang seorang anak pemberani yang bernama Raditya yang mencari obat untuk adiknya. Untuk menyembuhkan adiknya, dia harus pergi ke hutan yang angker yang dikenal dengan nama Alasangker. Ternyata hutan tersebut menyimpan sebuah misteri. Selengkapnya Cerita Anak Alassangker bisa dibaca di bawah ini.

Cerita Anak Alassangker


Dahulu, di desa Bukit ada seorang anak yang bernama Jagra. Dia tinggal bersama ayahnya. Ibunya meninggal ketika Jagra berumur dua tahun. Longsor besar menyebabkan rumahnya yang terletak di bawah bukit tertimbun. Ayahnya hanya mampu menyelamatkan Jagra.

Hari itu, Jagra bersama ayahnya pergi ke hutan di pinggir desa untuk mencari kayu bakar. Pagi buta mereka berangkat memasuki hutan. Dengan membawa parang dan keranjang besar, mereka berjalan menembus dinginnya udara pagi.

Sampai tengah hari mereka mencari kayu bakar di hutan. Keranjang yang dibawa telah penuh. Lelah dan lapar membuat mereka beristirahat di bawah pohon besar.

Sedang asyik mereka makan, tiba-tiba terdengar suara berat dan besar. Suara tersebut berasal dari dalam pohon tempat mereka beistirahat. Jagra dan ayahnya ketakutan mendengarnya.

“Hei kalian manusia serakah. Berani sekali kalian mengusik tempat tinggalku. Tidak tahukah kalian bahwa aku penguasa hutan ini? Seenaknya kalian mengacak-ngacak tempat tinggalku,” seru suara tersebut.

Jagra dan ayahnya sangat ketakutan. Jagra bersembunyi di belakang ayahnya. Ayah Jagra berusaha menghilangkan ketakutannya. Dengan bibir gemetar dia berkata, “Maafkan kami Penguasa Hutan. Kami tidak merusak hutanmu. Kami hanya mencari sedikit kayu bakar.”

“Aku tidak percaya. Manusialah yang selama ini menyebabkan hutan tempat tinggalku rusak. Aku tidak akan melepaskan kalian. Kalian telah dengan lancang merusak hutanku. Sebagai hukumannya, kalian akan ku bawa ke alamku. Kalian harus menjadi pelayanku,” kata penguasa hutan itu dengan marah.

Dengan ketakutan Jagra memeluk ayahnya dari belakang. Ayahnya tidak ingin anaknya ikut dihukum menjadi pelayan penguasa hutan.” Wahai penguasa hutan, aku bersedia menjadi pelayanmu. Namun, lepaskan anakku. Dia masih kecil untuk menjadi pelayanmu” pintanya.

Mendengar apa yang diucapkan oleh ayahnya, Jagra menangis tersedu. Dengan erat dia memeluk kaki ayahnya. Seolah tidak ingin berpisah dari ayah yang sangat dia sayangi. “Baiklah, permintaanmu aku kabulkan. Anakmu boleh kembali ke desa” kata Penguasa Hutan tersebut.

Ayah Jagra merasa lega. Dia segera berjongkok dan memeluk anakknya. Dengan penuh kasih sayang diusap kepala anaknya. Dengan lembut dia berkata, “Anakku Jagra, pergilah kembali ke desa! Katakan kepada seluruh penduduk desa agar jangan masuk ke hutan ini lagi. Jangan sampai ada warga desa yang berani mengganggu tempat tinggal Penguasa Hutan.”

Jagra yang tidak ingin berpisah dengan ayahnya memeluk erat ayahnya. Dia menangis sejadinya. “Ayah, aku tidak mau berpisah dengan ayah. Aku tidak mau hidup sendiri. Aku ingin bersama-sama dengan ayah” isaknya.

“Tidak anakku, kamu harus kembali ke desa. Kamu harus menjaga agar warga desa tidak ada yang mengusik Penguasa Hutan lagi” Ayah Jagra melepaskan pelukan anakkya. “Ayah yakin kamu bisa melanjutkan hidupmu sendiri. Suatu saat ayah akan kembali Nak” lanjutnya.

Jagra mengangguk. Dia menangis tersedu. Dipandanginya wajah ayahnya. “Aku sangat sayang pada ayah” kata Jagra.

“Ayah juga sayang sama kamu Nak. Ayah harus pergi sekarang. Kembalilah ke desa!” kata Ayah Jagra. Sambil menangis Ayah Jagra berjalan menuju ke dalam pohon besar tersebut. Dalam sekejap asap tebal yang disertai tawa penguasa hutan telah menelan Ayah Jagra. Meninggalkan Jagra yang menangis menjadi-jadi.

“Kasihan sekali Jagra Kek. Masih kecil sudah ditinggal oleh kedua orangtuanya” kata Raditya setelah Kakeknya selesai bercerita. Dipeluknya guling yang ada di sampingnya.

Kakek hanya mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Raditya. “Kakek selalu mengingatkanmu Raditya, hutan itu sangat angker. Kamu jangan pernah masuk ke dalam hutan itu” kata Kakek. “Hari sudah larut, tidurlah. Besok kamu harus sekolah. Jangan sampai terlambat untuk bangun pagi” lanjutnya lagi.

“Iya Kek, selamat malam Kakek” kata Raditya sambil menguap. Diperbaiki selimutnya yang melorot. Tak lama kemudia dia sudah terlelap.

Kakek mematikan lampu kamar Raditya. Dengan berlahan dia menutup pintu kamar dan berjalan menuju ke kamarnya.

Raditya itulah namanya. Seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun. Saat ini dia duduk di kelas empat sekolah dasar di desanya. Di sekolah Raditya terkenal sebagai anak yang disiplin dan cardas. Di rumah dia anak yang sopan dan rajin membantu orangtua.

Raditya memiliki seorang adik perempuan yang berumur tiga tahun. Namanya Rani. Rani anak yang cerewet dan periang. Hampir setiap saat selalu menimbulkan gelak tawa orang yang ada di dekatnya. Oleh karena itu Rani sangat disayangi oleh kakak maupun orangtuanya.

Mereka tinggal bersama orangtua dan kakeknya di sebuah desa kecil. Desa itu bernama desa Bukit. Seperti namanya, desa itu terletak di kaki bukit. Di sebelah barat desa, terdapat hutan dengan pepohonan yang lebat. Hutan Alasangker itulah namanya. Hutan itulah tempat Ayah Jagra ditangkap oleh Penguasa Hutan. Saat ini hutan tersebut menjadi hutan yang tidak tersentuh manusia. Hal ini tampak dari Pohon-pohon besar tumbuh menjulang tinggi dan rimbunnya semak belukar.

Dahulu, penduduk desa Bukit sering ke hutan untuk sekedar mencari kayu bakar maupun menebang pohon untuk keperluan rumah. Namun sejak menghilangnya Ayah Jagra di dalam hutan tersebut, membuat penduduk desa tidak ada yang berani lagi masuk ke dalam hutan itu lagi. Sejak saat itu juga Jagra tinggal di pinggir hutan Alasangker untuk menunggu ayahnya pulang. Saat ini, Jagra yang sudah tua hidup sendiri di pinggir hutan memperoleh julukan Kakek Jagra si Penjaga Alasangker.

Raditya dan teman-temannya di desa sering bermain di tanah lapang yang terletak di pinggir hutan. Beberapa kali mereka berjumpa dengan Kakek Jagra ketika dia sedang membersihkan gubuknya. Tapi, tak seorang pun dari mereka berani mendekatinya maupun menyapa dia.

Konon kalau ada anak yang berani menyapa dia, maka pada malam harinya anak tersebut akan menghilang dari rumahnya. Kakek Jagra dipercaya akan datang dan menculik anak tersebut. Nantinya anak tersebut akan ditukarkan dengan ayahnya yang menjadi pelayan di hutan Alasangker. Hal itulah yang membuat mereka tidak berani mendekati Kakek Jagra.

****

Sore itu, seperti biasa Raditya bersama teman-temannya bermain di tanah lapang dekat gubuk Kakek Jagra. Sedang asyik bermain, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh teriakan salah seorang temannya. “Kakek Jagra datang, ayo cepat menjauh!” seru Dede sambil berlari menjauhi teman-temannya. Secepat itu juga teman-temannya segera berlari mengikuti Dede. Setelah agak jauh, mereka lalu bersembunyi untuk melihat apa yang dilakukan oleh Kakek Jagra.

Dari kejauhan mereka melihat Kakek jagra berjalan perlahan menuju ke gubuknya. Tampak dia baru datang dari sungai. Sebuah cangkul dipikul di pundaknya. Dengan hanya menggunakan celana pendek, terlihat jelas tubuh Kakek Jagra yang kurus tertatih menuju ke gubuknya.

Setelah Kakek Jagra masuk ke gubuknya, Raditya dan teman-temannya segera pulang ke rumah masing-masing. Mereka tidak ingin tertimpa musibah karena bertemu dengan Kakek Jagra.

Sampai di rumah, Raditya melihat kakek dan kedua orangtuanya sedang berbincang di teras rumah. Dari raut wajah mereka, Raditya tahu kalau mereka sedang membicarakan suatu hal yang penting. Dengan napas terengah, Raditya naik ke teras rumah dan duduk di sebelah Ibunya.

“Ada apa Bu?” bisik Raditya kepada Ibunya. Ibunya, melihat Raditya dengan tatapan mata sayu. “Panas adikmu tidak turun-turun Nak. Padahal tadi sudah dibawa ke dokter oleh Ayah” kata Ibu sedih.

Mendengar apa yang disampaikan oleh Ibunya, Raditya berdiri dan segera masuk ke kamar adiknya. Dilihatnya Rani, adik perempuannya yang sangat disayanginya sedang tertidur di kamarnya.

“Cepat sembuh ya Adikku” gumam Raditya lirih. Dengan tangan kanannya, diusapnya kening adiknya. Dia merasakan badan adiknya menggigil dan suhu tubuhnya sangat tinggi.

“Dingin sekali Kak,” Rani menggumam disela tubuhnya yang menggigil. Kedua tangan Rani tersilang erat di atas dadanya. “Ambilkan Rani selimut lagi Kak,” gumamnya lagi.

Raditya segara beranjak dari tempat duduknya. Dengan bergegas dia berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambilkan Rani selimut. Kamar Raditya terletak paling dekat dengan teras. Ketika Raditya berada di kamarnya, dia mendengar dengan jelas percakapan yang dilakukan oleh kakeknya dengan kedua orangtuanya. Tampaknya mereka sedang memperdebatkan sesuatu.

“Tidak Nak, itu berbahaya sekali. Sampai saat ini tidak ada seorangpun yang berani masuk ke hutan itu. Tidak ingatkah kau pada cerita Jagra dan ayahnya?” kata Kakek dengan nada tinggi.

“Tapi Pak, kasihan Rani. Aku tidak ingin terjadi sakitnya bertambah parah. Aku harus ke Alasangker untuk mendapatkan daun sirih itu” kata Ayah bersikeras.

“Tak seorang pun yang tahu letak daun sirih itu di Alasangker. Kalaupun kamu bisa ke hutan itu dan menemukannya, apakah kamu akan bisa kembali ke rumah untuk membawa daun sirih itu?” kata Kakek dengan nada keras.

Suara Kakek yang bernada keras membuat teras depan menjadi sunyi. Raditya segera mengambil selimut di atas tempat tidurnya. Dengan bergegas dia menuju ke kamar adiknya.

Diselimutinya Rani yang masih menggigil. Tanpa menimbulkan suara, dia kembali ke kamarnya. Tujuannya adalah untuk menguping pembicaraan kakek dengan kedua orangtuanya.

Melalui jendela kamarnya yang mengarah ke teras depan, Raditya melihat Kakek dengan kedua orangtua Raditya masih diam tanpa bersuara. Hanya terdengar Kakek yang menghela nafas. Terasa begitu berat beban yang berkecamuk dalam diri Kakek. Hal yang sama juga terlihat dari wajah Ibu yang menunjukkan kesedihan. Sementara, Ayah duduk termenung menatap kosong jalan di depan rumah.

Keheningan di teras rumah sirna setelah Kakek beranjak dari tempatnya. “Besok kita bicara pada kakakmu, Gede. Sebagai kepala desa, Aku harap dia memiliki jalan keluar untuk masalah ini” kata Kakek sambil menuju ke kamar. Ibu pun segera ke kamar Rani, sementara ayah masih memandang dengan tatapan kosong jalan di depan rumahnya.

Raditya segera keluar dari kamarnya. Di dekatinya Ayahnya yang sedang duduk termenung. “Ada apa Yah? Tadi aku sempat mendengar pembicaraan Ayah dan Kakek. Untuk apa daun sirih merah itu Yah?” tanya Raditya sambil duduk di samping ayahnya.

Ayah menoleh ke arah Raditya. Dengan tangan kanannya, dia mengusap anak laki-lakinya itu. “Dulu ketika Ayah masih kecil, di desa kita sering ada anak kecil yang sakit panas seperti adikmu. Tapi, saat itu kami dapat menyembuhkannya dengan cepat. Hanya dengan menggunakan rebusan air daun sirih merah” kata ayah. “Tapi kini, daun sirih merah itu susah diperoleh. Dulu daun sirih itu banyak tumbuh di hutan Alasangker. Kamu tahu sendiri, setelah peristiwa menghilangnya ayah Jagra, tidak ada seorang pun yang berani masuk ke hutan itu lagi,” lanjutnya.

Raditya manggut-manggut mendengar cerita Ayahnya. Ada suatu hal yang berkecamuk dalam dirinya. Tapi, dia enggan untuk menyampaikan kepada Ayahnya. Segera dia minta ijin pada ayahnya untuk mandi.

Malam itu suasana rumah Raditya tampak sepi. Kakek dan orang tuanya berkumpul di kamar Rani. Hanya Raditya yang berada di kamar untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

Raditya sebenarnya tidak bisa berkonsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Pikirannya masih tertuju pada daun sirih merah, hutan Alasangker dan kondisi adiknya yang sakit. Walaupun begitu, dia berusaha untuk dengan cepat menyelesaikan tugasnya itu.

Setelah setengah jam berusaha, tugasnya pun selesai. Raditya segera menuju ke tempat tidurnya. Tidak berapa lama kemudian dia terlelap.

Tengah malam, Raditya terkejut ketika dia merasakan ada yang menggoncang tubuhnya. Segera dia membuka matanya. Dia melihat Kakek Jagra telah berada di sampingnya. Di sekelilingnya penuh dengan pepohonan. Kini Raditya sadar, dia tidak lagi ada di kamarnya. Dia berada di tengah sebuah hutan. Di depannya tampak pohon besar yang sudah tua menjulang tinggi. Di sebelah pohon besar itu tumbuh sebuah pohon sirih dengan daun yang berwarna merah menyala.

“Itulah pohon sirih merah Raditya. Ayo segera petiklah. Pergunakan daun itu untuk mengobati adikmu” kata Kakek Jagra.

Raditya menatap ke arah Kakek Jagra seolah tidak percaya. Dia melihat senyum ramah tersungging di mulut Kakek Jagra. Raut mukanya yang keriput tidak tampak menyeramkan seperti yang sering kakeknya ceritakan.

Dengan bergegas Raditya mendekati pohon sirih merah itu. Dipetiknya helai demi helai daunnya. Dijejalkannya daun-daun itu ke saku celananya sampai penuh.

Dengan wajah gembira dia berpaling ke arah Kakek Jagra. Dia ingin mengucapkan terima kasih pada Kakek Jagra. Ternyata selama ini penduduk desa telah salah paham terhadap Kakek Jagra. Kakek Jagra yang dikenal sebagai sosok menyeramkan, ternyata merupakan sosok penolong.

“Terima kasih banyak Kek” kata Raditya sambil menggenggam erat tangan kurus Kakek Jagra. Kakek Jagra hanya tersenyum melihat kelakuan Raditya.

Raditya ingin segera kembali ke rumahnya. Untuk itu dia segera berpamitan. “Kek, terima kasih atas pertolongnnya. Sekarang saya pamit pulang dulu” katanya. Namun Raditya merasa aneh, tangan Kakek Jagra menggemgam dengan erat. Ketika Raditya melihat ke wajah Kakek Jagra, dia terkejut. Wajah kakek Jagra tidak seramah tadi. Matanya merah menyala. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. Tapi senyumnya tidak seramah tadi. Senyum Kakek Jagra sekarang lebih menyerupai seringai sinis.

“Mau ke mana kamu anak kecil, kamu tidak akan aku lepaskan. Sudah lama sekali aku menunggu saat seperti ini. Saat di mana aku bisa membebaskan ayahku dari alam gaib” kata Kakek Jagra dengan suara berat dan seram.

Raditya yang tadi merasa gembira seketika menjadi pucat pasi. Dia ketakutan melihat perubahan pada Kakek Jagra. Wajah Kakek Jagra yang keriput berubah seram. Matanya yang terlihat ramah kini menjadi garang. Tangannya yang kurus sekarang berbulu dengan kuku tajam.

Raditya dengan sekuat tenaga mencoba melapaskan diri. Dia tidak perduli cengkraman Kakek Jagra yang sangat kuat. Rasa sakit dari akibat cengkraman Kakek tidak dihiraukan. Raditya terus meronta dan berteriak.

Raditya tersadar ketika dengan keras Ayahnya mengguncangkan badannya. Detak jantung Raditya terdengar keras. Keringat dingin membasahai seluruh badannya. Dengan erat dia memeluk ayahnya.

“Tenanglah Nak, Itu hanya mimpi,” kata ayah menenangkan Raditya. Ayah mengusap rambut Raditya yang basah oleh keringat. Diambilkannya segelas air yang ada di meja dekat ranjang Raditya. “Minumlah air ini,” lanjutnya.

Raditya kembali tenang setelah meminum air pemberian ayahnya. Dia mulai sadar sepenuhnya. Ternyata apa yang dialami hanyalah mimpi. Dia melepaskan pelukannya. Kembali dia membaringkan tubuhnya.

Ayahnya tersenyum. Diciumnya kening anak laki-lakinya itu. “Kembalilah tidur Nak” katanya. Raditya hanya mengangguk. Dia mulai memejamkan matanya.

****

Keesokan harinya, sepulang dari sekolah Raditya mengayuh sepedanya menuju ke tanah lapang di pinggir desa. Di tanah lapang tidak terlihat satu orang pun temannya. Memang hari itu dia tidak ingin bermain bersama temannya. Tujuannya hari itu adalah menuju ke rumah Kakek Jagra.

Sepanjang perjalanan, dalam benak Raditya berkecamuk antara rasa takut dan bimbang. Mimpi menyeramkan dan berbagai cerita tentang Kakek Jagra memang masih menghantuinya. Namun, hari itu dia sudah bertekad bulat. Dia ingin menemui Kakek Jagra agar bisa mengantarkan dia ke hutan untuk mencari pohon sirih merah.

Di depan rumah Kakek Jagra, dia menghentikan sepedanya. Dengan sedikit ragu dia melangkah ke pintu pagar rumah. Tak tampak Kakek Jagra berada di halaman rumahnya. “Pasti Kakek Jagra sedang tidur” pikirnya.

Raditya memasiuki pekarangan rumah Kakek Jagra. Walaupun sangat sederhana, tapi pekarangan Kakek Jagra tampak bersih dan terawat. Berbagai tanaman tampak tumbuh subur di sana.

Dengan tangan gemetar diketuknya pintu rumah Kakek Jagra. Namun, tidak ada tanda-tanda Kakek jagra berada di dalam rumah. “Kek, Kakek…” dengan perlahan Raditya memanggil Kakek Jagra.

Tidak lama kemudia pintu rumah Kakek Jagra terbuka. Tampak seorang laki-laki kurus tinggi. Wajahnya keriput dangan bintik tahi lalat besar di keningnya. Dengan mata sayu laki-laki tersebut memandang Raditya.

“Masuklah Raditya…” dengan suara serak Kakek Jagra mempersilakan Raditya masuk. Raditya terkejut dan bingung. Dia merasa sangat heran. Dalam benaknya bermunculan berbagai pertanyaan. Kenapa Kakek Jagra bisa mengetahui namanya? Apakah Kakek Jagra benar-benar sakti seperti yang sering di dengar dari cerita penduduk desanya?

Raditya duduk di sebuah kursi dari bambu yang sudah tampak tua. Walaupun tua, namun kursi tersebut tampak masih terawat. Di dalam rumah Kakek jagra, Raditya melihat seluruh perbotan rumah tertata dengan rapi. Tampak sebuah ranjang di sudut yang hanya beralaskan tikar.

“Ada apa kamu kemari Raditya?” tanya Kakek Jagra mengejutkan Raditya.

“Kok Kakek tahu nama saya?” tanya Raditya. Sejak tadi, dia sangat penasaran Kakek Jagra bisa mengetahui namanya.

Kakek Jagra tersenyum mendengar pertanyaan Raditya. Tampak beberapa giginya yang telah tanggal. “Kakek tahu nama kamu dan seluruh teman-temanmu. Kalianlah hiburan Kakek selama ini. Kakek selalu menonton kalian saat kalian bermain di tanah lapang tersebut. Lihatlah dari sini, bukannya tanah lapang tersebut terlihat dengan jelas?” kata Kakek Jagra sambil menunjuk ke arah jendela kecil yang menghadap langsung ke arah tanah lapang tempat Raditya dan teman-temannya bermain.

Raditya melihat ke arah jendela yang ditunjukkan oleh Kakek Jagra. Apa yang disampaikan oleh kakek Jagra memang benar. Raditya baru mengetahui bahwa selama ini Kakek Jagra selalu menonton dia bermain.

“Baiklah Nak, Kakek mau tahu tujuanmu berkunjung ke rumah Kakek? Terus terang setelah berpuluh-puluh tahun, hanya kamu yang berkunjung ke rumah Kakek”

“Kek, antarkan saya ke Alasangker. Saya ingin mencari pohon sirih merah. Adik saya sedang sakit panas. Hanya dengan daun itu, adik saya bisa sembuh” Raditya menerangkan tujuannya menemui Kakek Jagra. “Tapi Kek, kalau Kakek ingin menukarku dengan ayah Kakek menjadi pelayan penguasa hutan, saya bersedia Kek. Tapi, ijinkan saya membawa daun sirih merah itu ke rumah” lanjut Raditya sambil menunduk.

Kakek tertegun mendengar apa yang disampaikan oleh Raditya. Tak lama kemudian dia tertawa terpingkal-pingkal yang membuat Raditya merasa sangat heran.

“Raditya, kamu sungguh anak pemberani. Ayo ikutlah Kakek. Kakek akan mengantarmu ke tempat pohon sirih merah itu!” Kakek Jagra segara beranjak meninggalkan Raditya yang masih terheran. Dia menuju ke belakang gubuknya. Di sana terdapat sebuah jalan kecil yang terawat dengan baik. Disepanjang jalan itu terdapat tanaman bunga.

“Raditya, Kakek akan menceritakan sebuah rahasia kepadamu. Rahasia tentang Alasangker. Tentang penguasa hutan dan tentang Ayahku” kata Kakek ketika Raditya telah ada di sampingnya. Mereka berjalan beriringan menyusuri jalan kecil tersebut.

“Dulu hutan Alasangker ini tidak selebat sekarang. Hal itu disebabkan warga desa sering masuk ke hutan ini untuk mecari kayu bakar atau bahan bangunan. Namun, mereka hanya ingat menebang tanpa mau berusaha untuk menanam kembali. Hingga hutan dan bukit itu menjadi gundul. Ibuku yang menjadi korban dari keegoisan masyarakat desa. Dia meninggal akibat bukit tersebut longsor” cerita Kakek Jagra. Raditya mengamati keadaan sekeliling sambil mendengar cerita Kakek Jagra. Dia melihat jalan kecil tersebut mengarah masuk ke dalam hutan.

“Sudah sering Ayahku mengingatkan penduduk desa agar menjaga lingkungan, tapi mereka tidak perduli. Desa kita ada di bawah bukit. Kalau sampai bukit itu longsor, maka akan banyak korban yang jatuh. Oleh karena itulah, Ayahku membuat rencana untuk menyelamatkan bukit dan hutan ini. Dia mengajak Kakek untuk membuat sandiwara. Cerita yang kamu dengar selama ini dan sampai saat ini adalah sandiwara Ayahku” kata Kakek Jagra.

Cerita Kakek Jagra benar-benar membuat Raditya terkejut. Dia merasa tidak percaya bahwa selama ini cerita yang hampir setiap malam diceritakan oleh kakeknya itu sandiwara Ayah Kakek Jagra. “Maksudnya Kek?” tanya Raditya penasaran.

“Hari itu, Sebenarnya Ayahku tidak diculik oleh penguasa hutan. Dia meminta Kakek untuk kembali dan bersandiwara seolah-olah dia dijadikan pelayan dari Penguasa hutan. Dia sengaja tinggal di hutan untuk menakut-nakuti orang yang ingin merusak hutan” kata Kakek. “Lihat pohon besar itu. Itu adalah pohon tertua di hutan Alasangker ini. Di sebelah pohon itu adalah rumah tempat tinggal Ayahku. Tapi sekerang beliau sudah tiada. Beberapa tahun yang lalu dia meninggal karena usia yang sudah lanjut” kata Kakek Jagra sambil menunjuk sebuah pohon.

Raditya melihat pohon yang ditunjuk oleh Kakek Jagra. Di sebelah pohon itu terdapat gubuk sederhana. Tapi, walaupun sederhana gubuk tersebut terawat dengan baik. “Jadi selama ini, cerita tentang hutan ini yang angker adalah sandiwara Kakek? Hutan ini sebenarnya tidak angker, Kek?” tanya Raditya masih belum percaya.

Kakek Jagra hanya tersenyum. Dia menuju ke belakang gubuk. Raditya mengikuti dari belakang. Langkah Kakek Jagra terhenti di sebuah pohon sirih. Dengan cekatan dia memetik daun sirih tersebut.

Setelah dirasakan cukup, Kakek memberikan daun itu kepada Raditya. “Ini daun sirih merah. Bawalah daun ini untuk menyembuhkan adikmu” kata Kakek sambil tersenyum.

Raditya menerima daun itu. Dengan tidak percaya dia mengamati wajah Kakek Jagra. Dia masih terbayangi oleh mimpinya semalam. Raditya bersiap seandainya Kakek berubah menjadi mengerikan. Namun, kali ini yang dilihat adalah senyum Kakek yang ramah.

“Kenapa masih bengong Radit?” pertanyaan Kakek Jagra membuayarkan lamunan Raditya.

“Tidak kenapa Kek. Terima kasih Kek” kata Raditya tersipu. “Maaf Kek, selama ini kami takut dan mengucilkan Kakek. Tidak saya duga selama ini kami salah. Kakek sangat berjasa untuk desa Bukit.”

Kakek tersenyum. “Kalian tidak salah. Kakek sendiri yang membuat kamu maupun penduduk desa yang lain takut datang ke hutan ini. Tunggu sebentar Raditya!” Kakek segera mengambilkan sebuah plastik dari dalam gubuk tersebut. “Gunakan ini untuk membungkus daun itu. Ayo kita segeralah pulang. Biar adikmu lekas bisa diobati” lanjutnya.

Kakek Jagra dan Raditya segera kembali ke pinggir hutan. Mereka kembali menyusuri jalan kecil yang dibuat oleh Kakek Jagra. Ternyata waktu yang diperlukan keluar dari hutan lebih singkat dibadingkan masuk ke dalam hutan. Itulah yang dirasakan Raditya ketika mereka sudah sampai di pinggir hutan.

Setelah pamitan dan mengucapkan terima kasih, Raditya kembali menuju ke rumahnya. Dengan gembira dia membawa daun sirih yang diperoleh dari dalam hutan. Rasa lelah saat berjalan menyusuri hutan tidak dirasakannya. Dengan cekatan dia mengayuh sepedanya.

Sesampai di rumah Raditya langsung menaruh sepeda di samping rumahnya. Dengan tergesa dia menuju ke teras. Tampak Kakeknya, Ayah dan Pak Gede pamannya sedang bercakap-cakap di teras.

“Yah, ini saya berhasil memperoleh daun sirih merah” seru Raditya sesampainya di teras. Di dekatinya ayahnya sambil memperlihatkan plastik tempat daun itu. “Ini lihat Yah!”

“Di mana kamu memperoleh daun ini Radit?” tanya ayah terkejut ketika melihat dalam bungkusan tersebut terdapat daun sirih merah. Tampak raut wajahnya menunjukkan sebuah kekhawatiran.

Raditya segera menceritakan semua pengalaman yang baru dia alami. Dengan sangat detail dia menyampaikan bagaimana memperoleh daun itu. Juga pertemuannya dengan Kakek Jagra serta kebenaran hilangnya ayah Kakek Jagra.

Semua yang ada di sana seolah tidak percaya apa yang disampaikan oleh Raditya. Namun, daun sirih merah tersebut menjadi bukti yang tidak terbantahkan dari apa yang diceritakan oleh raditya.

“Ternyata, kita telah selama ini telah tertipu oleh sandiwara Jagra dan ayahnya” gumam Kakek sambil meneguk kopinya.

Paman Gede juga menggeleng-geleng kepala. “Kita berhutang banyak pada Kakek jagra dan ayahnya. Selama ini merekalah yang menjaga kita dari bencana longsor” katanya. “Nanti, saya akan sampaikan cerita ini dalam rapat desa”

“Tapi Paman, kalau nanti warga desa tahu pasti mereka akan menebang pohon di Alasangker lagi,” kata Raditya khawatir.

“Tenang Radit, nanti akan kita buatkan sebuah peraturan desa mengenai perlindungan terhadap hutan Alasangker. Melestarikan hutan Alasangker adalah kewajiban seluruh penduduk desa ini. Kalau tidak, maka bahaya besar yang akan melanda desa kita” kata Paman Gede.

Raditya senang mendengar apa yang disampaikan oleh Paman Gede. Dia tahu bahwa warga di desanya akan mentaati peraturan desa tersebut. Selama ini tidak seorang pun yang berani melanggar peraturan desa. Karena, melanggar peraturan desa bisa dikenai sanksi berat.

Sejak saat itu, gubuk Kakek Jagra tidak lagi sepi. Banyak anak dari desa Bukit yang berkunjung ke sana. Kakek Jagra dengan senang hati memandu anak-anak maupun penduduk desa yang ingin menikmati suasana hutan Alasangker. Walaupun banyak penduduk yang berkunjung ke hutan Alasangker, tapi tidak seorangpun yang berani untuk menebang pohon di sana. Peraturan desa dengan tegas akan mengusir warga desa yang berani menebang pohon di hutan Alasangker.

4 comments for "Cerita Anak Alassangker"

  1. Ceritanya bagus dan menginspirasi untuk mencintai alam..

    ReplyDelete
  2. Sangat menginspirasi👏🏻👏🏻👏🏻ceritanya bagus👌🏻

    ReplyDelete

Post a Comment